Gadis SD Diduga Dijual

Berita P2TP2A

SOEKARNO-HATTA (Galamedia) – Sudah lebih dari satu bulan, Suzan Christiane (31) tidak bertemu anak sulungnya yang baru berusia 12 tahun, SM. Anak perempuan yang masih duduk di sekolah dasar itu hilang bak ditelan bumi sejak 9 September lalu. Saat ini, Suzan sibuk mencari anaknya yang diduga menjadi korban trafficking (penjualan manusia).Sambil berlinang air mata, Suzan menceritakan kasus yang dialaminya. Kesedihan menyelimuti wanita yang tinggal di kawasan Margahayu, Kota Bandung itu. Sesekali, Suzan menyatakan harapannya agar putri sulungnya segera kembali ke pangkuannya.

images 5 Gadis SD Diduga Dijual P2tp2a Jabar

Dikisahkan wanita berparas cantik ini, putri sulungnya yang memiliki badan bongsor dan berkulit putih serta mata sipit itu, terakhir kali terlihat pada Senin, 9 September lalu, sekitar pukul 18.00 WIB. Setelah itu, SM meninggalkan rumah tanpa memberitahu sang ibu. Terakhir ia terlihat mengenakan pakaian tidur motif kotak-kotak.

“Celananya pakai celana pendek punya saya, karena badannya juga sudah seukuran dengan saya,” tutur Suzan saat bertemu dengan wartawan di kawasan Metro Margahayu, Jln. Soekarno-Hatta, Rabu (16/10).

Sejak itu, kata Suzan, tidak ada kabar sama sekali dari putri sulungnya. Keluarga pun cemas dan mulai mencari. Mereka tidak langsung melapor kepada polisi, melainkan melakukan upaya pencarian sendiri. Suzan mencari petunjuk, baik melalui keluarga, teman SM maupun jejak komunikasi telepon.

“Saya akhirnya membuat selebaran. Saya sebarkan ke daerah Cibiru, Ujungberung, dan Buahbatu,” terangnya.

Upaya keras Suzan sempat menemui titik terang. Di daerah Cibiru, seorang tukang ojek dan pedagang memberinya petunjuk. Mereka mengaku pernah melihat SM di sekitar Bundaran Cibiru. Sampai akhirnya, 14 Oktober lalu Suzan memperoleh informasiberharga tentang keberadaan rumah yang diduga menjadi tempat singgah putrinya.

“Akhirnya informasi itu saya sampaikan pada keluarga. Adik saya kemudian mendatangi lokasi rumah itu. Ternyata, ada seorang pria bernama RF (26),” ungkapnya.

RF kemudian didesak untuk mengatakan keberadaan SM. Keluarga sangat terkejut saat mengetahui SM diduga menjadi korban penjualan anak. Dari ponsel milik RF terdapat SMS yang menunjukkan, SM dijual pada pria hidung belang.

“Anak saya itu oleh orang sekitar RF diberi nama Viera. Adik saya juga mendapatkan foto anak saya yang difoto berdua dengan RF,” tutur Suzan.

Singkat cerita, keluarga kemudian membawa RF ke Polsekta Ujungberung. Dari sana, kemudian dilimpahkan ke PolrestabesBandung.

“Saya laporan ke Polsekta Ujungberung dan dilimpahkan ke polrestabes. RF pun sudah diperiksa oleh penyidik, namun dipulangkan lagi dan hanya dikenai wajib lapor,” ujarnya.

Pernah digauli

Dikatakan Suzan, dari keterangan penyidik, alasan pemulangan RF karena tidak adanya korban, kurangnya bukti serta jaminan dari pihak orangtua RF yang menyatakan anak mereka tidak akan kabur. Dalam pemeriksaan, tambah Suzan, RF tidak mengakui telah mempekerjakan SM sebagai pekerja seks komersial. Namun RF mengaku telah menggagahi SM sebanyak dua kali.

“Padahal dia (RF) sudah mengaku pada penyidik telah berhubungan intim sama Viera, nama panggilan anak saya, sebanyak dua kali. Selain itu dia juga ngaku ke penyidik suka bawa anak saya ke DS (tempat karaoke) BRI Tower sama ke daerah Suci. Tapi anehnya, dia tidak ditahan, malah dilepaskan dan hanya wajib lapor,” ujar Suzan.

Ia sudah melaporkan secara resmi soal kehilangan anaknya itu pada polisi. Salah satu laporan disampaikan pada Selasa (15/10) atau saat RF berada di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Bandung. Laporannya bernomor B/B SKTBM/ 2491/X/JBR/POLRESTABES BDG perihal Tindak Pidana Perlindungan Anak. Dalam surat laporan itu, RF dilaporkan sebagai pelaku yang membawa anak Suzan.

“Terus terang, saya khawatir anak saya jadi korban trafficking. Bisa saja anak saya diperjualbelikan. Saya khawatir sekali,” tuturnya.

Suzan mengaku sangat mengenal karakter anaknya. Menurutnya tidak akan mungkin sang anak melakukan tindakan negatif jika tidak dibujuk terlebih dulu. Suzan mengakui, meski bongsor, anaknya masih polos dan belum bisa memperhitungkan dampak negatif dari apa yang dilakukannya.

“Malah kata RF, anak saya itu sempat dicekoki miras. Saya jadi sangat khawatir,” ujarnya.

Suzan berharap kasus ini terus berjalan dan pelaku ditangkap. Di sisi lain ia juga ingin SM kembali dalam keadaan selamat.

“Saya cuma ingin anak saya pulang. Saya tidak akan marah. Apa pun keadaannya, saya ingin dia pulang. Saya tidak akan permasalahkan apa yang sudah dia lakukan,” paparnya.

Belum cukup bukti

Sementara itu, pihak kepolisian membenarkan telah menerimalaporan yang disampaikan Suzan Christiane, ibu kandung SM. Polisi juga sudah melakukan langkah penyelidikan. Namun sejauh ini, belum ada satu orang pun yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Trunoyudho Wisnu Andiko melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), AKP Suryaningsih membenarkan, laporan yang sudah disampaikan ibunda korban. “Ya benar, memang sudah ada laporannya,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (16/10).

Selain menerima laporan, tambah Suryaningsih, pihaknya juga sudah memintai keterangan dari RF, terlapor yang disangka oleh keluarga telah membawa kabur SM. Menurutnya, RF dimintai keterangan terkait dugaan membawa kabur anak di bawah umur.

Dalam pemeriksaannya, RF memang mengakui telah meniduri SM. Tetapi, lanjut Suryaningsih, pihaknya tidak bisa begitu saja menerima pengakuan terlapor. Pihaknya tetap memerlukan keterangan dari korban. Sayangnya, hingga saat ini korban masih dalam pencarian.

“Kalau untuk unsur penculikan, kami belum bisa memastikannya,” tambahnya.

Demikian juga dengan dugaan SM menjadi korban trafficking atau dipaksa untuk menjadi pekerja seks komersil. Suryaningsih menegaskan, pihaknya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.

Disinggung mengenai tudingan keluarga korban yang menilai polisi melepas RF, Suryaningsih membantahnya. Menurutnya, pihaknya sama sekali tidak melepas begitu saja karena pihaknya sudah menitipkan RF kepada orangtuanya.

“Kami tidak menahan terlapor karena belum cukup bukti. Selain itu, korban juga belum ditemukan. Kami tidak bisa sembarangan menahan terlapor. RF pun tetap harus wajib lapor pada Senin dan Kamis,” tutupnya.

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *