Komitmen Pemprov. Jabar, Tingkatkan Proporsi Sekolah Kejuruan

Berita P2TP2A
54IMG_1230-ser-y
BANDUNG- Pemprov. Jabar, untuk memajukan pendidikan berkomitmen meningkatkan proporsi jumlah SMK. SMK yang dibangun, didesain mempunyai  kualitas dengan harapan lulusan siswa SMK yang dihasilkan mempunyai jiwa mandiri.Hal demikian, diungkapkan Gubernur Jabar, H. Ahmad Heryawan ketika membuka  Expo Pendidikan Kejuruan Jabar, bertempat di BPPT Jabar, Jalan Pahlawan Kota Bandung (23/11).Menurut Gubernur, peningkatan proporsi Sekolah Menengah Kejuruan dilatarbelakangi oleh belum berimbangnya daya tampung Perguruan Tinggi untuk menampung lulusan SLTA. Kondisi serupa, juga terjadi di tingkat SLTP menuju SLTA. Kenyataan ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang semata, tetapi juga terjadi di negara maju.

Untuk berkompetensi dengan negara maju, proporsi pendidikan SMA minimal 25% sampai 30%, selebihnya di kejuruan karena faktanya tenaga profesional lebih banyak dibutuhkan. Proporsi tersebut, sudah diterapkan di negara-negara maju, dimana pada umumnya di negara maju maksimal menyediakan 30% untuk sekolah umum dan 70% untuk sekolah kejuruan.

Kondisi eksisting di Indonesia, proporsi pendidikan terbalik. Di Jabar, agar pendidikan bisa berkompetensi menargetkan ada perubahan proporsi pendidikan, yaitu pendidikan umum 40% dan pendidikan kejuruan sebanyak 60%.

Gubernur, menambahkan sangat beralasan jika pendidikan saat ini memperkuat sekolah kejuruan karena banyak SMK yang berkualitas, dengan faktanya sebesar 80% lulusannya bisa bekerja di perusahaan-perusahaan, dengan demikian melalui penambahan proporsi SMK dapat mengurangi pengangguran.

Melihat urgennya, peranan sekolah kejuruan Pemprov. Jabar secara bertahap akan terus meningkatkan proporsi jumlah sekolah kejuruan yang diharapkan proporsinya 30% sekolah umum dan 70% sekolah kejuruan.

Penguatan sekolah kejuruan juga dilatarbelakangi dengan tujuan meningkatkan angka partisipasi pendidikan. Sejalan dengan semangat memajukan pendidikan, angka partisipasi pendidikan tetap harus didorong mengingat Angka Partisipasi SD baru 96%, dari target 100%, angka partisipasi SMP dari tahun 2008 sebesar 89% dan di tahun 2010 baru 4%.

Sementara itu, angka partisipasi SMA/SMK masih menempati proporsi terendah dibandingkan angka partisipasi SD dan SMP, untuk tingkat nasional angka partisipasi SMA/SMK baru 58%. Untuk angka partisipasi pendidikan di Jabar dalam tahun 2008 baru mencapai 51%, bahkan di beberapa Kabupaten/Kota di Jabar ada yang baru mencapai 27%.

Melalui program akeselari dalam tahun 2010 angka partipasi pendidikan SMA/SMK sudah mencapai 57% , harapan di tahun 2013 dapat mencapai 70% jika bisa diharapkan dapat mencapai 80%.

Untuk menunjang program akselerasi diperlukan ketelitian dalam menghitung rasio antara jumlah siswa dengan rasio ruang kelas. Sejalan dengan tuntutan tersebut, ujar Gubernur di tahun 2011, ditargetkan 6.000 ruang kelas dapat  dibangun dengan perinciannya 2000 ruang kelas didanai melalui APBD murni 2011, 1000 ruang kelas didanai melalui perubahan APBD Tahun 2011 serta 3000 ruang kelas dibangun melalui dukungan dana dari APBD Kabupaten/Kota.

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *