Menaruh Harap pada RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Uncategorized
19Mei Diskusi Forum Asia Afrika di PR 1

BANDUNG, (PR).- Orang tua berperan penting memutus rantai kejahatan seksual pada anak ‎melalui komunikasi dialogis. Penanaman karakter yang baik menjadi modal anak dalam menghadapi pergaulan yang pada era digital ini mudah diintervensi oleh tayangan berbau seksual.

‎”Saat ini pola komunikasi orang tua dengan anak tergesa-gesa. Anak dianggap bukan sesuatu yang istimewa, hanya objek,” ujar Ketua Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jawa Barat, Netty Heryawan, dalam diskusi Forum Asia Afrika bertema “Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Anak” di Aula Pikiran Rakyat, Kamis, 19 Mei 2016.

Pola seperti itu, lanjut Netty, terjadi ketika orang tua saat ini lebih berorientasi kepada pekerjaan sehingga memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Netty menilai kekerasan seksual terjadi karena ketimpangan posisi pelaku terhadap korban, yakni adanya pihak superior yang berlaku semena-mena terhadap pihak subordinat. Dia menyebut adanya alasan relasi kuasa yang timpang.

“Ayah kandung bisa menodai anak kandungnya pada hari ketujuh kematian ibunya,” ujar dia. Hal itu, menurut dia, menjelaskan alasan seorang lelaki bisa melakukan kejahatan seksual terhadap seorang perempuan dengan pakaian tertutup bahkan balita.

Komunikasi dialogis menjadi program PKK Jabar yang digencarkan secara struktural kepada PKK kabupaten/kota dan kecamatan. Dari sisi kebijakan nasional yang bersifat kuratif, saat ini masyarakat Indonesia menaruh harapan kepada rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual yang telah masuk dalam program legislasi nasional prioritas di Dewan Perwakilan Rakyat.

UU tersebut akan mewajibkan Pemerintah Daerah yang selama ini kebijakannya belum seragam, membuat instrumen hukum terkait kejahatan seksual. ‎”Biasanya pasal-pasal tertentu ada indikasi petunjuk yang harus dikerjakan daerah. Seperti UU penghapusan tindak pidana perdagangan orang, ada kewajiban bagi daerah untuk menyediakan crisis center dan mengalokasikan anggaran,” ujar Netty.

Dalam diskusi terungkap, selama ini korban kekerasan seksual yang mencari keadilan, harus membiayai sendiri visum sebagai salah satu alat bukti kepolisian. Tidak sedikit keluarga korban yang kurang mampu menjual benda berharga yang dimiliki seperti tabung gas, untuk membiayai proses kepengurusan laporannya.

Kebijakan daerah dan keberpihakan anggaran daerah yang cenderung belum jelas‎ dalam kekerasan seksual, membuat para korban terkendala mencari keadilan. Untuk itu, dalam pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, menurut Netty, masyarakat dan pemangku kepentingan harus benar-benar mengawal.

“Kekerasan seksual yang membutuhkan penanganan komprehensif dari hulu sampai hilir perlu dipotret oleh pemerintah baik dalam kebijakan, dukungan program dan anggaran, serta ketersediaan sumber daya manusia,” kata dia. Dari hulu, kondisi orang tua yang mengalami disorientasi fungsi keluarga sehingga tidak mau menjalankan peran sebagai orang tua, harus dipotret dalam RUU.

Hal itu misalnya berkaitan dengan kerentanan menikah pada usia anak, konflik rumah tangga, perceraian, dan pekerjaan seorang ibu sampai keluar negeri. Persoalan di hulu lainnya adalah sistem pendidikan yang harus menyertakan nilai-nilai budi pekerti, penghormatan kepada orang lain, kesehatan reproduksi, dan konsep seksualitas. “Ini bagaimana meramunya. Pendidikan ranahnya adalah kabupaten/kota,” ujar dia.

‎Lalu, melalui UU Penghapusan Kekerasan Seksual tersebut pemerintah juga harus menerjemahkan partisipasi masyarakat. Satuan tugas (satgas) perlindungan anak atau satgas penanganan dan pencegahan kejahatan seksual dengan menyinergikan kepala desa/lurah, RT, RW, menjadi opsi yang harus ditentukan. “Jadi kalau warga mengalami kekerasan, harus kemana dulu sih,” kata dia.

 

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/05/20/menaruh-harap-pada-ruu-penghapusan-kekerasan-seksual-369602

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *