Netty : Perppu Perlindungan Anak Masih Belum Maksimal

Uncategorized
gambar_17647

BANDUNG – Terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang revisi UU Perlindungan Anak telah memberikan sanksi yang lebih berat bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Perppu ini terbit antara lain karena meningkatnya angka kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A),  Dr. Hj. Netty Prasetiyani Heryawan mengatakan Perppu ini masih lebih menyasar pada titik hilir (pasca kejadian), belum sepenuhnya menyasar pada faktor pemicu terjadinya kejahatan seksual. Perppu ini pun tidak secara langsung memberikan perlindungan kepada korban.

“Jadi ketika kita bicara Perppu ini, maka memang ini hanya berbicara proses hukum pada pelaku kejahatan seksual,” ujar Dr. Netty saat menjadi salah satu pembicara pada Unpad Merespons bertema “Kekerasan Seksual terhadap Anak” yang digelar di Executive Lounge Gedung 1 Lantai 2 Unpad.

Untuk upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak, Dr. Netty pun menyarankan mengenai perlunya revisi dan sinkronisasi peraturan perundang-undangan, juga perlu adanya perbaikan kebijakan dan program dalam berbagai lingkungan, seperti keluarga, institusi pendidikan, masyarakat, dan media.

Dalam upaya pencegahan kejahatan seksual, ia pun menegaskan mengenai peran penting keluarga. Jika delapan fungsi keluarga benar-benar dijalankan, maka berbagai perilaku menyimpang bisa dicegah sejak dini. Keluarga lah yang semestinya paling tahu tumbuh kembang dan setiap perubahan di anggota keluarganya, termasuk anak.

“Kita harus mengembalikan persoalan kejahatan seksual itu pada fungsi keluarga,” katanya. Hal senada juga   disampaikan Guru Besar Psikologi Sosial Unpad, Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, M.Sc. Ia mengatakan, akar permasalahan kejahatan seksual ada pada keluarga. “Pendidikan di rumah sangat penting, ini adalah akar masalahnya,” tuturnya.

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter anak, setidaknya hingga usia 12 tahun, dimana orang tua harus dapat memberikan pendidikan moral, agama, dan tentang aturan kehidupan yang dihadapi . Hubungan orang tua dan anak harus baik dan menyenangkan.

“Bagaimana pola asuh yang terjadi di keluarga, itulah yang sangat penting,” ujar Prof. Zulrizka. Selain itu, upaya jangka pendek yang dapat dilakukan sebagai upaya penyelesaian masalah kejahatan seksual adalah dengan adanya penegakan hukum yang baik, dengan perlunya ada pemberian hukuman kepada para pelaku kejahatan seksual dengan hukuman yang seberat-beratnya dan berlapis. Jo

 

sumber: http://www.jabarprov.go.id/index.php/news/17647/2016/05/31/Netty-Perppu-Perlindungan-Anak-Masih-Belum-Maksimal

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *