P2TP2A Jabar Minta Pemkab Purwakarta Perjelas Aturan Berpacaran

Uncategorized

INILAH, Purwakarta – Kebijakan mengenai larangan dan pembatasan jam malam berpacaran bagi anak-anak di bawah 17 tahun, menuai sorotan dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat.

Ketua P2TP2A Jabar, Nety Heryawan menilai, aturan desa berbudaya yang dikeluarkan Bupati Purwakarta ini sangat positif. Apalagi, hal tersebut merupakan upaya mempertahankan jati diri yang menjadi substansi masyarakat ketimuran.

“Bupati punya itikad baik dengan aturan ini. Kami mengaperisasi tindakan tersebut,” jelas Nety saat menghadiri seminar di Hotel Intan Purwakarta, Kamis (10/9/2015).

Hanya saja, Nety meminta, soal larangan berpacaran lebih diperjelas lagi. Memang, untuk larangan dan pembatasan jam malam hingga pukul 21.00 sudah diatur. Tapi di perbup tersebut tidak tertulis secara letterlijk soal ancaman nikah paksa.

“Soal pacaran, mungkin sebagian orang menganggap hal tersebut sangat umum. Makanya, di perbup itu harus diperjelas lagi. Misalnya, larangan pacaran yang membahayakan, diskriminatif dan mengarah ke tindak asusila,” jelas dia.

Jadi, tambah dia, sebelumnya harus dipahami dulu konteks dari pacaran itu sendiri. Karena menurutnya, konteks pacaran itu sebagai ajang penajajak bagi dua manusia dewasa menuju pernikahan. Selain itu, konteks kemajuan zaman harus mewaspadai unsur-unsur dekstruktif pada anak-anak.

Menyikapi hal tersebut, saat ini Nety akan ikuti aturan tersebut. Terkecuali, jika ada aduan meresahkan dari masyarakat, Pemprov Jabar siap memfasilitasi. Apalagi secara kelembagaan pihaknya telah berkoordinasi dengan Gubernur.

“Yang berhak menilai kebijakan itu positif atau sebaliknya, itu kewenangan Kementerian Dalam Negeri. Karena, tupoksi dan kewenangan pemprov terhadap kebijakan di daerah itu, sebatas pada perda tentang APD dan Retribusi,” pungkasnya.

 

sumber : http://inilahkoran.com/?scr=03&ID=47344&selectLanguage=1

Dadan started to venture into computer programming in 2008. Back then, he coded in Delphi and built several desktop-based applications including GIS-based apps. In 2011, he started to learn PHP and dived into the world of blogging and WordPress. Being a creative and innovative person is his personal motto.

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *