SEKILAS MENGENAI TRAFIKING

Trafiking

Secara sederhana, trafiking adalah sebuah bentuk perbudakan modern. Kebanyakan korban trafiking dirayu ke kota besar atau ke luar negeri dengan janji diberi pekerjaan menarik seperti pelayan, penjaga toko dan pekerja rumah tangga, tapi malah ditipu dan dipaksa ke dalam pekerjaan yang menyiksa atau bahkan prostitusi. Siapapun bisa menjadi korban trafiking.

Perdagangan Manusia juga disebut sebagai “Trafiking” atau “Human Trafficking” – istilah ini diambil dari bahasa Inggris. “Trafficking” dalam bahasa Inggris berarti perpindahan.
Jadi, artinya adalah perpindahan atau migrasi – yang berarti korban dibawa keluar dari kampung halamannya yang aman ke tempat berbahaya dan dikerjapaksakan – inilah yang membedakan trafiking dari bentuk pelanggaran hak asasi lainnya.

Trafiking tidak hanya merampas hak asasi tapi juga membuat mereka rentan terhadap pemukulan, penyakit, trauma dan bahkan kematian. Pelaku trafiking menipu, mengancam, mengintimidasi dan melakukan tindak kekerasan untuk menjerumuskan korban ke dalam pekerjaan mirip perbudakan atau ke dalam prostitusi. Korban menghadapi penyiksaan, kekejaman, kerja paksa, pemerasan dan eksploitasi. Banyak yang hanya menerima sedikit gaji atau tidak sama sekali sebagai bayaran pekerjaan mereka dan dipaksa terus bekerja untuk jam kerja yang berlebihan bahkan seringkali tanpa istirahat.

Seiring dengan terkumpulnya lebih banyak informasi dari tahun ke tahun mengenai kejahatan yang dilakukan para pelaku trafiking, kini disepakati bahwa beragam bentuk trafiking bertujuan akhir untuk beragam jenis kerja paksa, bukan hanya prostitusi. Oleh karena itu definisi trafiking telah menjadi proses yang berevolusi secara terus menerus.

Pada tahun 2002, pemerintah Indonesia membuat Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak dimana sebuah definisi sedang diusahakan untuk mendukung hukum di Indonesia.

Definisi menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa

Definisi yang paling banyak diterima di seluruh dunia adalah definisi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang mengatakan bahwa trafiking adalah: “Perekrutan, pengangkutan, pengiriman, penampungan atau penerimaan orang ini, dengan cara ancaman atau penggunaan kekerasan atau jenis paksaan lainnya, penculikan, pemalsuan, penipuan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi yang rentan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau tunjangan untuk mencapai kesepakatan seseorang memiliki kendali atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi.” (2000, Protokol PBB untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Trafiking Orang, khususnya perempuan dan anak-anak; Suplemen Konvensi PBB mengenai Kejahatan Transnasional)

Bagan dan penjelasan berikut dirancang untuk membantu anda dalam hal ini.

Uraian (Framework) ACILS – ICMC Untuk Definisi Dari PBB

Salah satu masalah dalam mendefinisikan trafiking adalah bahwa terdapat banyak situasi dimana orang disiksa tapi ini tidak langsung berarti mereka adalah korban trafiking. Sebagai contoh, seorang perempuan yang memilih untuk menjadi pekerja seks karena ia butuh uang tidak sama dengan seseorang yang ditipu dan ditarik ke dalam prostitusi dan dipaksa untuk terus melakukannya meskipun ia tidak mau.

Untuk membantu mengenali kasus trafiking, ACILS dan ICMC telah mengembangkan bagan di bawah berdasarkan definisi PBB. Agar suatu kasus dapat dikatakan trafiking, kasus tersebut harus meliputi 3 elemen pokok:

1. PROSES seseorang dipindahkan (contoh: dengan direkrut)
2. CARA seseorang dijebak (contoh: ditipu)
3. TUJUAN atau niatan perpindahan (contoh: kerja pa

Trafiking Adalah :

Proses + Cara + Tujuan
Perekrutan,
Pengangkutan,
Pengiriman,
Penampungan,
atau
Penerimaan
DAN Ancaman,
Pemaksaan,
Penculikan,
Penipuan,
Kebohongan,
Kecurangan,
atau
Penyalahgunaan Kekuasaan
DAN Prostitusi,
Kekerasan/Eksploitasi Seksual,
Kerja paksa/dengan upah yang tidak layak,
Perbudakan/Praktik –
Praktik lain serupa perbudakan,
atau
Penyalahgunaan Alat-Alat Reproduksi
 
1 + 1 + 1

Jika dalam suatu kasus, salah satu dari masing-masing elemen dari ketiga

kategori di atas terjadi, maka hasilnya adalah trafiking.

PERSETUJUAN KORBAN TIDAK RELEVAN
Untuk anakanak, persetujuan tidak relevan, dengan atau tanpa cara di atas.

Komponen Dalam Definisi PBB
Di bawah adalah beragam komponen dan faktor yang dapat menghasilkan
kasus trafiking:
Perekrutan (PROSES) : Kebanyakan kasus trafiking melibatkan perekrutan pekerjaan. Beberapa perekrut bekerja untuk agen perekrut sementara yang lainnya bekerja sendiri. Mereka mengurus dan “memfasilitasi” perjalanan ke kota lain di Indonesia atau ke luar negeri. Beberapa adalah perekrut resmi dan barangkali tidak tahu bahwa orang yang mereka tempatkan akan menjadi korban trafiking. Namun perekrut lainnya secara sadar menipu korban mengenai jenis dan kondisi kerja.
Pengangkutan di dalam & melintasi perbatasan (PROSES) : Agar dapat dikatakan trafiking, beberapa bentuk perpindahan fisik, migrasi atau pengangkutan mesti terjadi. Perpindahan dapat terjadi antar negara atau di dalam satu negara namun apapun situasinya korban dipindahkan ke tempat yang asing, jauh dari rumah dan perlindungan keluarga atau kerabat dan/atau di bawah kendali pelaku trafiking.
Dipindahkan dengan cara legal atau illegal (PROSES): Trafiking dapat terjadi baik saat seseorang dipindahkan secara legal atau ilegal. Trafiking dapat terjadi pada buruh migran dengan visa legal, yang masuk ke suatu negara dengan legal, tapi ditipu dan kondisi kerjanya tidak sesuai.
Pembelian, penjualan, pengiriman, penerimaan atau penampungan seseorang (PROSES) Pelaku trafiking menggunakan satu atau lebih dari tindakan ini ketika mereka memindahkan korban dari tempat asal ke tempat tujuan. Proses ini menunjukkan bahwa banyak orang barangkali terlibat dalam proses trafiking terhadap seorang korban – sebagai contoh: seorang perekrut bisa menjual korban, perantara mengirimkan korban, orang lain sepakat menampung korban di lokasi transit, sementara orang lain telah membeli korban untuk dijadikan pembantu atau pelacur. Video Pelatihan & Kit Kampanye Penghapusan Trafiking ”Derita Bisu“ : Buku Panduan Fasilitator
Penipuan (CARA) : Orang-orang yang diperdagangkan seringkali diberi iming-iming tawaran pendidikan, pernikahan atau pekerjaan bergaji besar. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka dijerumuskan ke dalam kerja paksa, prostitusi, atau dalam pernikahan yang disalahgunakan. Jadi, sebagai contoh, seorang perempuan tetap dianggap korban trafiking bahkan ketika ia tahu akan bekerja dalam industri seks, tapi tidak tahu bahwa ia akan kehilangan kebebasan atau pendapatan. Dalam banyak kasus orang-orang yang diperdagangkan ditipu mengenai kondisi yang harus mereka jalani dan/atau tentang kondisi kerja.
Paksaan, termasuk ancaman kekerasan atau penyalahgunaan wewenang (CARA) : Beberapa pelaku trafiking menggunakan kekuatan untuk menculik korban dan yang lainnya menggunakan kekerasan atau pemerasan untuk mengendalikan mereka. Karena orang-orang yang diperdagangkan menjadi tergantung masalah sandang, pangan dan papan, mereka dipaksa untuk menyerahkan diri pada tuntutan penculik mereka. Pelaku trafiking dapat membatasi kebebasan korban atau hanya memperbolehkan mereka keluar dengan pengawal. Paksaan juga bisa bersifat psikologis. Penyalahgunaan wewenang seringkali berarti seseorang yang memiliki wewenang atas orang lain (seperti kerabat atau majikan) merampas hak asasi mereka.
Jeratan Hutang (CARA): Banyak orang-orang yang ditarik terperangkap dalam jeratan hutang. Begitu tiba di tempat tujuan mereka dipaksa bekerja atau melunasi hutang yang dilambungkan akibat penempatan kerja, tempat tinggal, biaya perjalanan, biaya kesehatan dan makanan. Pelaku trafiking memiliki kendali penuh atas perpindahan dan pemasukan korban mereka. Korban seringkali dikurung dan paspor/ijin mereka ditahan, jadi mereka, sebagai akibatnya, terperangkap hutang mereka.
Perbudakan (rumah tangga, seksual, atau alat reproduksi), dalam kerja paksa atau dalam kondisi mirip perbudakan (TUJUAN) : Banyak perempuan dan anak-anak ditarik ke dalam situasi yang berdasarkan definisi hukum tidak termasuk kerja paksa atau perbudakan. Dalam beberapa kasus mereka ditarik ke dalam perkawinan paksa atau budak seks tanpa nafkah. Perempuan lainnya dikurung sebagai pembantu rumah tangga atau ditawan untuk pelayanan seksual atau alat reproduksi.
Elemen inti dari trafiking adalah kondisi yang eksploitatif dan semena-mena di mana korban diangkut dan ditempatkan. Kerja paksa, penghambaan dan perbudakan adalah kejahatan yang dilarang oleh hukum internasional sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Orang-orang ditarik ke
dalam banyak situasi, seperti pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kasar atau di pabrik; dalam sektor formal maupun informal; ke dalam perkawinan atau hubungan lainnya. Kondisi/hubungan yang disertai paksaan dan penipuan dalam situasi ini disebut “trafiking”.

Sumber : https://sites.google.com/

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *