Seorang Diri Tinggal di Gubuk

Uncategorized

MAJALENGKA, (PRLM).- Sendung (55), warga Desa Nunuk, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka sudah dua tahun tinggal di gubuk ukuran 2 m X 4 m di Blok Gunung Taneuh, desa setempat, karena tidak memiliki rumah setelah berpisah dengan istrinya .

Gubuk yang ditempatinya berada sekitar 700 meteran dari pemukiman penduduk. Tidak ada listrik, apalagi kamar mandi.

Dinding gubuk pun hanya setengah badan. Sebagian menggunakan bambu, sebagian lagi menggunakan kain sarung bekas. Sedangkan atap gubuknya menggunakan belahan bambu yang disusun bolak-balik, tertutup dan terbuka, agar air tidak masuk ke dalam gubuk.

Untuk mencapai ke gubuknya harus mendaki ke bukit kemudian masuk ke perkebunan. Sendung menyebutkan kebun yang ditempatinya milik adik kandungnya yang kini sudah meninggal.

Di dalam gubuknya hanya ada karung berisi pakaian dan beberapa kantung. Alas tempat tidurnya terbuat dari bambu (sunda: talupuh) ditutup karung dan kain sarung, tanpa kasur ataupun bantal.

Tungku yang ada di depan tempat tidurnya hanya ada satu kuali berisi nasi basi dan penggodokan air.

Bila ingin mandi dia harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km ke tempat pemandian umum atau ke mesjid desa.

Sendung mengaku tidak memiliki BPJS. Diapun tidak pernah mendapatkan batuan beras rasta karena tak mampu menebus rasta yang harganya mencapai Rp 3.000 per kg.

Kesehariannya dia tidak bekerja, terkecuali bila ada yang memintanya sebagai kuli cangkul dengan upah Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per hari. Namun tidak setiap minggu ada yang menyuruhnya mencangkul. Atau dia mencari kemiri yang jatuh dari pohon milik orang lain setelah terkumpul dia jual.

Dulu sebelum tinggal di gubuk, Sendung memiliki istri asal Tasikmalaya dan memiliki satu orang anak, namun kemudian bercerai dan kembali ke kampung halamannya. Hanya saat kembali semua orang tuanya telah meninggal, dan rumah peninggalan orang tuanya ditempati oleh adik dan keponakannya, sehingga dia akhirnya memilih tinggal di kebun milik adiknya yang juga telah meninggal.

Eni Sukaeni, seorang famili Sendung berharap pemerintah bisa memberikan bantuan pembangunan rumah agar bisa memiliki tempat tinggal yang layak untuk ditempati. Serta memberikan bantuan lainnya untuk hidup.

“Semua familinya tidak mungkin bisa membangunkan gubuk yang layak makanya kami berharap pemerintah desa bisa memperhatikan dia dan keluarga miskin lainnya yang ada di Nunuk. Pemerintah Desa juga bisa membantu rasta agar dia bisa makan nasi,” kata Eni.

Tokoh masyarakat Desa Nunuk, Memed mengatakan dirinya akan berupaya bergotong royong untuk membangun gubuk yang lebih baik agar saat hujan atau ada angin besar tidak kehujanan.

“Saya sudah membeli asbes untuk atap bangunannya, nanti rencananya akan bergotong royong,” ungkap Memed.

Harusnya menurut Jaja, tokoh pemuda lainnya, dia diajukan untuk mendapatkan bantuan rumah tidak layak huni. Karena pengerjaannya bisa dilakukan secara gotong royong. (Tati P-Kabar Cirebon/A-88)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2016/02/19/361612/seorang-diri-tinggal-di-gubuk

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *