Transaksi Seksual di Kota Bandung Kasat Mata

Berita P2TP2A

BANDUNG, (PRLM).- Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung prihatin dengan realitas moral transaksi seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Terutama dari hasil temuan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat sebesar 28% merupakan pelajar aktif.

Ketua DPRD Kota Bandung Achmad Nugraha mengatakan di Kota Bandung transaksi seks yang melibatkan anak di bawah umur sangat kasat mata. Ini seperti prostitusi terselubung. Meskipun Dewab pernah membicarakan mengenai persoalan ini tapi hingga saat ini tidak pernah ada laporan mengenai persoalan ini ke Komisi D DPRD Kota Bandung.

“Lucunya pelaporan terkait masalah perubahan perilaku ini tidak ada sama sekali ke dewan,” kata Achmad di Kota Bandung, Jumat (6/9/13).

Menurutnya, permasalahan sosial ini terjadi dikarenakan adanya kemajuan teknologi dan semakin banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia semakin mengikis budaya asli Indonesia. Begitu juga dengan banyaknya tempat-tempat hiburan malam yang menjadi tempat terjadinya perilaku menyimpang. Oleh karena itu, diharapkan agar tempat hiburan pun dapat lebih membatasi pengunjung yang masuk khususnya bagi anak-anak di bawah umur untuk tidak diperbolehkan masuk.

Achmad mengatakan dewan akan memberikan ketegasan bagi Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan untuk memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada anak-anak di bawah umur mengenai bahaya perilaku menyimpang.

Perhatian orangtua

Aktivis perempuan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sitti Heliana mengatakan, orangtua harus memberikan perhatian dan kasih sayang yang kontinu dalam mendidik anak-anaknya. Di zaman yang serba canggih ini, orang tua harus berhadapan dengan gaya hidup remaja yang semakin menjadi-jadi.

Dalam usia remaja, emosi seorang anak sangatlah labil. Sementara sekolah yang merupakan tempat siswa menimba ilmu pengetauan harus bisa mengambil peran lebih dalam membina para siswanya. Dia menambahkan sekolah juga harus memberikan penanganan yang bijak dan bukan malah menganggapnya sebagai aib sekolah. Pasa PSK anak berstatus pelajar itu perlu dihadapkan dengan guru bimbingan konseling, untuk mengetahui alasan utama mereka dalam mengerjakan pekerjaan yang dilarang agama itu.

“Pasti ada alasan-alasan lain, seperti terkendala masalah ekonomi, salah pergaulan, kurang perhatian orangtua, dan semua itu harus diketahui oleh orangtua, guru, dan pihak lainnya yang peduli dengan kasus seperti ini,” kata Sitti.

Sumber : Pikiran Rakyat, 9 September 2013

Artikel lainnya berdasarkan Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *